Setelah pada pertengahan tahun 1940 Kerajaan Belanda jatuh ke tangan NAZI Jerman, Hindia Belanda sebagai “anak didik” Belanda pun segera berbenah. Pada Mei 1941 Pemerintah Hindia mengumumkan kepada publik bahwa mereka telah memiliki pertahanan udara yang mumpuni. Pernyataan ini diperkuat dengan keberadaan ratusan pesawat Curtiss Interceptor yang siap berdiri sebagai ujung tombak penangkal agresi musuh. Di samping itu

curtiss interceptor

curtiss interceptor

Pemerintah Hindia juga telah memesan serangkaian pesawat tempur dari Australia dan Amerika untuk memperkuat militernya, menyusul perundingan dagang yang alot antara Hindia dengan Jepang. Perundingan dagang yang gagal ini kemudian disusul dengan serangan Jepang ke Hindia dengan mengusung slogan pembebas Asia. Akhirnya, pada Desember 1941, Curtiss Interceptor melakukan tugas pertamanya di Hindia dengan bukan melawan NAZI Jerman, melainkan menghadang agresi Sang Saudara Tua. (st)

(oryza aditama / http://www.saudaratua.wordpress.com)