Beras

Beras

Era 97/98 badai krisis multi dimensi seakan menerpa Indonesia nyaris tanpa ampun. Berdasar pertimbangan itulah pemerintah Jepang kemudian setuju untuk memberikan pinjaman/bantuan berupa 550.000 ton beras berkualitas tinggi kepada Indonesia. Bantuan ini dijadwalkan akan dibayar kembali juga dalam bentuk beras 30 tahun yang akan datang. Namun publik Jepang dibuat gusar tatkala suratkabar Yomiuri Shimbun pada Januari 1999 mengabarkan bahwa ternyata beras bantuan tersebut tidak didistribusikan dan hanya ditimbun di gudang Bulog. Sebagaimana dirilis oleh Tempo, kecurigaan pihak Jepang itu ditanggapi oleh Menteri Perindustrian dan Perdagangan (Menperindag) kala itu, Rahardi Ramelan, dengan mengatakan bahwa beras bantuan dari Jepang memang tidak dibagikan gratis tapi dijual saat operasi pasar ke berbagai daerah. Keterangan Rahardi rupanya tak lantas menyurutkan pandangan miring dari sang saudara tua yang tetap mengirimkan tim untuk mengawal dan mencari fakta perihal alur pendistribusian beras. Mereka sebenarnya menilai bahwa bantuan yang tiap sen-nya berasal dari pajak masyarakat Jepang itu tidak boleh dikomersilkan.(st)

(oryza aditama / http://www.saudaratua.wordpress.com)