Toko Jepang

Toko Jepang

Sebagai salah satu kota besar di pesisir utara pulau Jawa, Semarang sejak berabad lampau telah dikenal memiliki hubungan dagang yang baik dengan bangsa dari belahan bumi yang lain. Di samping Arab, India, dan Tiongkok, para pedagang Jepang juga diketahui turut beraktivitas di kota ini. Nanyo Shokai adalah toko Jepang (sebutan toko kelontong milik orang Jepang) pertama di Semarang hasil besutan Tsutsumibayashi Kazue yang kisah suksesnya turut mewarnai sejarah kota ini. Kazue lahir dari keluarga miskin pada 26/12/1874 di kota Shinjo, prefektur Yamagata, Jepang. Dalam hidupnya, Kazue pernah berprofesi sebagai guru, sipir penjara di kota kelahirannya, pernah pula menjadi pegawai penjara di Taiwan, sebelum banting stir menjadi pedagang. Kazue yang juga seorang pemeluk Kristen Protestan pada April 1909, bersama 15 orang pemuda gereja, bertolak dari pelabuhan Yokohama menuju Semarang untuk berbisnis. Ia mendarat di Semarang pada 3/5/1909, dan dengan waktu yang relatif singkat yaitu pada 14/5/1909 rombongan Kazue telah mampu membuka toko kelontong mereka. Toko mereka dinamakan Nanyo Shokai (Toko Lautan Selatan) yang bentuk fisiknya berupa rumah tua yang hampir rubuh. Kazue melakukan kegiatan bisnisnya di lantai bawah, sedangkan ia sendiri dan para pegawainya tinggal di lantai dua. Dalam buku “Apakah Mereka Mata-mata?” karya Sekar Puji Astuti, dikisahkan bahwa kehidupan dalam Nanyo Shokai berlangsung sangat disiplin dan sederhana, bahkan mereka hanya makan sekali dalam sehari. Dari sekian jenis barang dagangan Nanyo Shokai, balsam gosok dan permen mentol adalah produk dari prefektur Yamagata yang paling diminati oleh konsumen. Pada 1917 Nanyo Shokai telah membuka anak cabang yang bergerak di bidang ekspor-impor Hindia Belanda dan Jepang. Tahun 1927 toko yang berpusat di Semarang ini telah memiliki 21 cabang di berbagai daerah dengan jumlah pegawai seluruhnya mencapai ratusan orang. Toko Jepang menerapkan sistem harga pas serta beberapa kali menggelar obral, hal ini berbeda dengan toko milik orang Tionghoa yang lebih menekankan proses tawar-menawar dalam praktek perdagangannya.

(oryzaaditama / http://www.saudaratua.wordpress.com)