Javanese dan Japanese

Javanese dan Japanese

Di telinga beberapa orang, dua kata “Japanese” dan “Javanese” mungkin sulit dibedakan dalam pelafalannya. Dengan tak bermaksud menghubung-hubungkan, tetapi faktanya bangsa Jepang (Japanese) pernah memproklamirkan dirinya sebagai “saudara tua” kaum pribumi Hindia yang didalamnya juga termasuk suku Jawa (Javanese). Terlepas dari segala motivasi Jepang terhadap pribumi di masa lalu, yang pasti hal itu tetap dilakukan meski kedua pihak memiliki perbedaan yang tak sedikit. Persamaan nilai-nilai tradisional kemasyarakatan dua bangsa ini coba dimunculkan kembali oleh dua orang seniman asal Jepang lewat sebuah pameran grafis dan instalasi bertajuk “oneness” pada 15-21/6/08. Mereka adalah Yasumi Ishii asal Yokohama dan Sayuri Takahashi asal Tokyo, keduanya merupakan lulusan Jurusan Kesenian Universitas Seni Musashino, Tokyo, Jepang. Kedua orang seniman Jepang tersebut dapat dikatakan telah memahami budaya Jawa dengan baik karena telah lama hidup di tengah masyarakatnya. Yasumi telah 12 tahun tinggal di Magelang, sedangkan Sayuri lebih kurang 15 tahun tinggal di Jogjakarta. Tak kurang dari 50 buah karya grafis kedua seniman yang dipamerkan tersebut mengandung motif campuran antara Jepang dan Jawa. Karya tersebut dikemas dalam instalasi kayu antik dan bekas kandang kerbau yang didapatkan dari desa-desa di sekitar Candi Borobudur. “Diolah dengan teknologi komputer grafis, ada motif orang, grafis binatang, pemandangan, garis, motif tradisional Jawa dan Jepang”, terang Yasumi tentang karya-karyanya tersebut, sebagaimana dikutip dari Antara. Yasumi juga mengatakan bahwa pamerannya kali ini mendapat pengaruh besar dari para komunitas seniman Borobudur. “Seniman Borobudur menginspirasi kami untuk berkarya”, ujar Yasumi. Pameran karya-karya Yasumi dan Sayuri itu sendiri mengambil tempat di Galeri Limanjawi Art Borobudur, desa Wanurejo, Kec Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. (st)

(oryzaaditama / http://www.saudaratua.wordpress.com)