Pertanian di Jepang

Pertanian di Jepang

Kamis 8/7/93 di Jakarta, sebanyak 17 orang santri yang berasal dari berbagai pesantren di Indonesia beserta tiga orang tim teknis agribisnis dari Departemen Pertanian dilepas ke Jepang oleh Tarmizi Taher, Menteri Agama RI di kala itu. Keberangkatan mereka ke Negeri Sakura ini tak lain untuk mendalami sistem manajemen agribisnis para petani di Jepang demi kemajuan pesantren mereka masing-masing. Di Jepang, para peserta akan dikondisikan untuk hidup bersama-sama selama dua bulan dengan para petani Jepang yang dinilai telah menerapkan manajemen agribisnis yang cukup baik serta memiliki pola pikir ekonomis. Menurut Tarmizi Taher, selama ini ada kesan bahwa pesantren merupakan tempat sufistik yang terasing dengan kehidupan masyarakat sehari-hari, padahal yang terjadi sebenarnya adalah tidak demikian. “Oleh karena itu untuk meningkatkan kulaitas para santri, mereka dikirim ke Jepang untuk melihat dan merasakan sendiri bagaimana pola hidup masyarakat yang berpikir ekonomis. Diharapkan hal ini juga bisa meningkatkan kualitas pengelolaan agribisnis di pesantren, termasuk meningkatkan keterampilan dalam sistem pemasarannya”, tambah Tarmizi Taher, sebagaimana dikutip dari Kompas. Dan satu lagi yang bisa ditiru oleh Bangsa Indonesia dari Jepang, menurut beliau adalah bagaimana Jepang sukses melaksanakan pemerataan ekonomi yang merupakan aspek tersulit dalam proses pembangunan. Acara pelepasan para santri ini sendiri turut dihadiri oleh Mustafa AR sebagai Deputi Ketua Bidang Administrasi Bappenas yang datang mewakili Menteri Pertanian, serta Aang Kunaefi sebagai Ketua DPP Majelis Dakwah Islamiyah.(st)

(oryza aditama / http://www.saudaratua.wordpress.com)