Awal 1942, ribuan tentara Dai Nippon mendarat di Pulau Jawa sebagai misi mereka untuk menciptakan Persemakmuran Bersama Asia Timur Raya. Sungguh di luar dugaan, pasukan ras kuning ini berhasil mencerabut kekuasaan Belanda yang telah bercokol ratusan tahun di Hindia dalam waktu yang relatif singkat. Di sela sorak-sorai rakyat pribumi dalam menyambut para tentara pembebas yang juga mengaku sebagai saudara tua ini, sempat pula terdengar sebuah alunan lagu milik bangsa Bumiputra yang akhirnya cukup terpatri di benak para pasukan itu hingga mereka kembali ke negaranya kelak. Dan lagu itu adalah “Bengawan Solo”. Lagu Bengawan Solo diciptakan oleh Gesang Martohartono pada tahun 1940 di Surakarta (Jawa Tengah). Ketika itu Gesang yang masih berusia 23 tahun adalah seorang pemuda pemain alat musik flute yang tergabung dalam salah satu grup orkes keroncong di Surakarta. Lirik lagu Bengawan Solo mendeskripsikan sebuah sungai yang juga bernama Bengawan Solo dengan alunan nada yang nostalgik. Pada akhir Perang Dunia II, pasukan Dai Nippon yang kembali ke Jepang tetap membawa simphoni lagu Bengawan Solo itu hingga sampai ke negara mereka. Tahun 1947, seorang artis Jepang bernama Toshi Matsuda sukses membawakan lagu Bengawan Solo di Jepang hingga mencapai best selling recordings. Kecintaan masyarakat Jepang terhadap Gesang bersama Bengawan Solo-nya ternyata sanggup menggerakkan mereka untuk membentuk sebuah yayasan bagi Gesang di Jepang yang bernama Dana Gesang. Bahkan pada 1983, Dana Gesang sempat pula mendirikan sebuah taman di dekat sungai Bengawan Solo yang disebut Taman Gesang. Ketika tiba peringatan 50 tahun hubungan Persahabatan Indonesia-Jepang pada tahun 2008, Asosiasi Persahabatan Indonesia-Jepang sempat pula memberikan penghargaan khusus kepada Gesang di antaranya adalah rekaman drama dokumenter hubungan Indonesia-Jepang yang berjudul “Benang Merah”, serta sebuah donasi untuk pengelolaan Taman Gesang. “Gesang sangat terkenal di Jepang, dan lagu Bengawan Solo juga amat masyur karena digunakan dalam salah satu film layar lebar di Jepang”, terang Koji Kawano seorang anggota Asosiasi Persahabatan Indonesia-Jepang, sebagaimana dikutip dari Antara. Gesang juga diketahui telah beberapa kali berkunjung ke Negeri Sakura atas undangan dari pihak Jepang. Beliau tercatat pertama kali mengunjungi Jepang pada tahun 1980 ketika berlangsung event Festival Salju Sapporo. Selain lagu Bengawan Solo, Gesang juga dikenal sebagai pencipta lagu keroncong berjudul: Jembatan Merah, Pamitan, Aja Lamis, dan Caping Gunung. Sedangkan lagu Bengawan Solo itu sendiri, setidaknya telah diterjemahkan ke dalam 13 bahasa di dunia, termasuk bahasa Inggris, bahasa Mandarin, dan tentu saja bahasa Jepang. Gesang Martohartono lahir di Surakarta pada 1 Oktober 1917, dan meninggal pada 20 Mei 2010 di kota yang sama. Gesang meninggal dunia setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit akibat infeksi paru-paru. (st)

(oryza aditama / http://www.saudaratua.wordpress.com)