Karikatur Perang Russia-Jepang

Karikatur Perang Russia-Jepang

Sejak Jepang keluar sebagai pemenang dalam perang Russia-Jepang (1904-1905), warga Jepang yang berdomisili di Hindia Belanda makin getol berjuang untuk menyetarakan kedudukan mereka sederajat dengan kaum kulit putih. Ironisnya “kenaikan pangkat” orang-orang Jepang di dalam masyarakat ini malah terkesan menambah “musuh” bagi mereka. Selain kelompok warga Tionghoa di Hindia Belanda yang memang telah menjadi musuh Jepang terkait kecamuk politik di China, Pemerintah Hindia Belanda pun ternyata menaruh curiga dan terkesan melakukan sedikit diskriminasi terhadap segala sepak terjang orang-orang Jepang di Nusantara. Praktis beberapa media masa Jepang acap kali memandang negatif dan sinis terhadap kebijakan pemerintah kolonial. Salah satunya ditunjukkan oleh media masa papan atas Jepang yaitu Asahi Shimbun, yang di awal 1916 memuat artikel bernada gertakan kepada Kerajaan Belanda dan Pemerintah Hindia Belanda. Hal itu terkait kebijakan pemerintah kolonial terhadap beberapa warga Jepang di Borneo.

Berikut petikan artikel tersebut: “Rakjat Djepang di Borneo telah diperlakoeken koerang adil. Kembali baroe-baroe ini di Sabang, beberapa orang dari kapal api Yoetari Maroe telah dipoekoeli, ditangkep, ditahan dalem pendjara, serta diperlakoeken dengan kedjam. Apakah jang gouvernement Djepang telah perboeat? Lid-lid parlemen haroes bener-bener memboeat pemeriksaan dalem hal ini. Kaloe gouvernement Hindia Belanda sengadja melanggar sikap netralnja, dan oentoek kebaikan Nedherland jang telah memperlakoeken dengan kedjam rakjat Djepang, kita (Djepang) tidak boleh mengampoeninja. Oentoek membales kekedjaman ini adalah sanget moedah bagi Djepang. Ja coekoeplah dengan gerakan satoe kaki dan satoe kepalan tangan. Kaloe Nedherland masih inget persahabatan jang doeloe pernah kita (Djepang dan Nedherland) djalanken, Nedherland haroes oebah kelakoeanja!…”. Salinan artikel Asahi Shimbun ini dikutip langsung dari suratkabar Pembrita Betawi terbitan Maret 1916.

Asahi Shimbun terbit perdana pada Januari 1879 di Osaka, Jepang. Suratkabar ini makin berkembang pesat setelah pada 1882 manajemen Asahi mendapat bantuan modal dari Bank Mitsui dan pemerintah Jepang. Nama Asahi Shimbun terus berkibar dengan ditandai keikutsertaan mereka sebagai sponsor berbagai kejuaraan olahraga, di antaranya Kejuaraan Bisbol Sekolah Menengah di Jepang pada 1915. Hingga kini Asahi Shimbun telah memiliki oplah lebih dari 8 juta eksemplar dan menjadikannya sebagai harian terbesar kedua di Jepang setelah Yomiuri Shimbun. (st)

(oryza aditama / http://www.saudaratua.wordpress.com)