Tsunami Jepang

Tsunami Jepang (dok.Antara)

Siang itu, Jumat 11/3/11, hiruk-pikuk masyarakat Jepang di kawasan Tokyo dan sekitarnya terkesan lain dari biasanya. Mereka yang telah dikenal dunia sebagai bangsa yang ‘gila kerja’ ini, kini dipaksa menghadapi ‘kegilaan alam’ yang menyerbu mereka tanpa permisi. Ya, di hari yang naas inilah, sebuah gempa besar 8.9 SR serasa datang untuk menguji kehebatan kontruksi gedung-gedung Jepang yang termasyur itu. Dan persis sesuai perhitungan para insinyur Jepang, bangunan pencakar langit yang telah mereka bangun terbukti mampu menari-nari dengan luwes mengikuti irama bumi yang mematikan. Namun, seperti tak terima karena serangan gempanya mampu diredam dengan cukup sempurna, sang alam kembali melancarkan serangan kedua yang lebih mematikan. Kali ini lewat gelombang tsunami yang maha besar. Pada serangan kedua inilah akhirnya Bangsa Matahari itu tersungkur tak berdaya. Tercatat perfektur Iwate dan Miyagi mengalami kerusakan paling parah hingga nyaris rata dengan tanah. Bahkan pembangkit listrik reaktor nuklir di Fukushima diketahui mengalami kebocoran akibat gempa hebat tersebut. Hingga detik ini ribuan orang dilaporkan telah tewas dan hilang. Jumlah korban tersebut diperkirakan akan terus merangkak naik seiring dengan berbagai laporan baru yang masuk.
Jepang sebagai salah satu negara paling maju dan terkaya di dunia memang telah sejak jauh hari mempersiapkan masyarakatnya untuk menghadapi bencana gempa bumi. Bahkan banyak pihak yang meyakini bahwa jika saja bencana dahsyat tersebut menimpa negara dunia ketiga, mungkin jumlah korban jiwa dapat menyentuh angka ratusan ribu jiwa. Namun demikian, meski bangsa Jepang dikenal telah mampu dengan baik menghadapi berbagai bencana alam, lebih elok kiranya jika seluruh komunitas dunia turut berkontribusi untuk meringankan beban mereka. Maka tak mengherankan ketika beberapa jam pasca bencana, PBB kemudian mengumumkan sedikitnya ada 45 negara yang telah bersiap untuk membantu Jepang.
Untuk pihak Indonesia sendiri, Jepang memang cukup dikenal sebagai salah satu negara asing dengan respon paling cepat untuk memberikan bantuan ketika Indonesia kebetulan tertimpa sebuah bencana. Negeri Sakura itu seperti tak pernah lupa untuk selalu mengulurkan tangannya ketika Indonesia kepayahan setelah dihantam amukan alam. Oleh karena itulah di sela-sela pernyataan resmi duka-citanya, Kementrian Luar Negeri Indonesia menyatakan akan bersiap untuk membantu Jepang. “Pemerintah Indonesia menyampaikan belasungkawa yang tulus dan rasa duka yang mendalam atas jatuhnya korban jiwa, luka-luka, dan kerusakan fisik yang tidak terkira. Pemerintah dan rakyat Indonesia akan senantiasa berkontribusi dalam seluruh upaya Pemerintah Jepang dalam menghadapi musibah ini”, terang pihak Kemenlu sebagaimana dikutip dari VivaNews. Beberapa komunitas alumni pelajar Indonesia yang pernah mengenyam pendidikan di Jepang, diketahui juga tengah bersiap untuk turut berkontribusi bagi korban bencana. Bahkan Palang Merah Indonesia (PMI) yang diketuai oleh mantan Wapres Jusuf Kala, yang secara kebetulan tengah berada di Tokyo ketika bencana menerpa, telah mempersiapkan tim untuk dikirim ke Jepang. Tim PMI yang rencananya hendak dikirim ke Jepang ini telah berpengalaman mengatasi korban gempa, di antaranya gempa bumi di Haiti pada 2010 silam. Pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) pun telah melakukan gerak cepat. Tak sampai 24 jam pasca bencana, KBRI langsung mengirim tim evakuasi untuk menembus wilayah Sendai, ibukota prefektur Miyagi, yang tercatat paling parah terkena dampak tsunami. Sebagai tambahan, tim KBRI ini adalah tim dari negara asing pertama yang berhasil mendirikan posko evakuasi di Sendai.
Untuk efektivitas bantuan ke Jepang, diharapkan agar masyarakat Indonesia dapat lebih terfokus kepada bantuan yang dapat berefek langsung terhadap korban gempa bumi dan tsunami di Jepang. Namun tanpa bermaksud mengesampingkan hubungan persahabatan yang telah terjalin sangat baik antara Jepang dan Indonesia serta tetap menjunjung tinggi solidaritas antar negara sahabat, Indonesia juga tak boleh lupa bahwa di saat yang bersamaan, mereka juga tengah tertimpa bencana banjir bandang di Pidie, Nangroe Aceh Darussalam, yang hingga kini telah merenggut belasan korban jiwa dan korban materi yang tidak sedikit. (st)
(oryza aditama / http://www.saudaratua.wordpress.com)