Fukushima 50

Fukushima 50

Berbagai aksi heroik dan dramatis banyak mewarnai media Jepang pasca serangan gempa dan tsunami yang melanda negeri itu pada 11/03/11. Ada kisah seseorang yang selamat dan terapung di tengah laut selama tiga hari, kisah pantang menyerah seorang anak muda beserta neneknya yang terperangkap di dalam reruntuhan rumahnya sendiri selama enam hari, sampai dengan kisah perjuangan seekor anjing yang berusaha meminta pertolongan tim SAR demi seekor anjing lain yang terluka berat. Memang selain menguras air mata dan mengaduk-aduk emosi kita, di balik sebuah bencana besar selalu bertabur kisah-kisah inspirasional yang mengagumkan.

Tapi terlepas dari itu semua, adalah kisah heroik sekelompok pegawai PLTN Fukushima yang paling menjadi primadona dihampir semua media masa.  Mereka populer dengan sebutan ‘Fukushima 50’. Kelompok ‘Fukushima 50’ adalah sebutan untuk sekitar 200 orang pegawai PLTN Fukushima yang tetap tinggal di kawasan PLTN untuk mengatasi kebocoran reaktor nuklir akibat gempa dan tsunami. Dengan resiko tingkat radiasi nuklir yang sangat tinggi, ke-200 orang tersebut mempertaruhkan nyawa mereka sendiri demi mencegah bencana nuklir yang lebih besar lagi. Berbekal peralatan yang tak cukup memadai untuk menangkal radiasi, mereka bekerja selama 24 jam non-stop dengan pembagian empat shift. Karena tiap kelompok tugas terdiri dari 50 orang anggota, maka pasukan kamikaze ini populer dengan nama ‘Fukushima 50’. “Orang-orang yang bekerja di PLTN ini berjuang tanpa kenal melarikan diri. Mereka yang kesehatannya terkena dampak tetap bekerja keras, tanpa tidur atau makan. Saya hanya berdoa untuk keselamatan semuanya”, ujar Michiko Otsuki seorang pegawai PLTN yang dievakuasi dari lokasi bencana nuklir, seperti dikutip dari Detik.

Ternyata kisah heroik orang-orang yang mempertaruhkan nyawa mereka sendiri demi kelangsungan hidup orang lain tak hanya didominasi oleh orang-orang Jepang semata. Adalah Rita Retnaningtyas seorang perawat di Miyagi National Hospital yang berasal dari Semarang, Indonesia, namanya mendadak mencuat ketika Dubes Jepang untuk Indonesia, Kojiro Shiojiri, secara khusus menyampaikan rasa terimakasihnya untuk perawat asal Indonesia itu. “Kami atas nama pemerintah Jepang menyampaikan terimakasih kepada BNP2TKI dan khususnya Rita Retnaningtyas yang ikut bersusah payah membantu warga Jepang terkena tsunami di Miyagi”, ucap Shiojiri, seperti dikutip dari Antara. Dubes Shiojiri mengatakan bahwa Rita dan beberapa kawannya dari Indonesia memilih tetap bertahan di Miyagi untuk membantu melakukan tugas kemanusiaan. Sebagaimana diketahui, Miyagi adalah prefektur yang paling parah terkena bencana, area ini sebenarnya juga termasuk kurang aman dari jangkauan paparan radiasi nuklir. Tak seperti para warga negara asing lain yang berbondong-bondong eksodus dari kawasan bencana, bahkan banyak pula yang pergi meninggalkan Jepang, Rita bersama kawan-kawannya memilih mempertaruhkan keselamatannya sendiri untuk tetap tinggal dan membantu para korban.(st)

(oryza aditama / http://www.saudaratua.wordpress.com)