Shinsai Mirai no Hana

Shinsai Mirai no Hana

Minggu 26/12/10, memori kelam masyarakat Aceh seakan dipaksa untuk kembali melihat kepedihan mereka enam tahun silam, kala tsunami menggulung Aceh tanpa ampun. Ada satu hal istimewa dalam peringatan tsunami Aceh kali ini. Sebanyak lebih kurang lima ribu buah bunga kertas shinsai mirai no hana (bunga masa depan) dikirimkan masyarakat Jepang untuk memompa semangat masyarakat Aceh. Tapi siapa sangka, tak sampai tiga bulan pasca peringatan tsunami Aceh yang maha dahsyat itu, dunia kembali dikejutkan dengan tsunami Jepang yang tak kalah mengerikan.

Menurut Ryo Nishikawa, yang juga seorang koordinator sebuah lembaga edukasi bencana yang ada di Kobe, shinsai mirai no hana adalah sebuah bunga kertas berwarna kuning yang bertuliskan pesan dan harapan rakyat Jepang untuk masyarakat Aceh yang terkena bencana tsunami enam tahun lalu. Nishikawa juga mengatakan bahwa bunga adalah lambang sebuah harapan yang menyatukan Aceh dan Kobe yang sama-sama pernah tertimpa bencana besar. “Kami sudah mengumpulkan 40 ribu pesan dari banyak orang untuk dipamerkan ke seluruh wilayah yang terkena bencana, dengan ini mudah-mudahan semua korban bencana bisa bangkit kembali dan hidup lebih baik”, terang Nishikawa sebagaimana dikutip dari Antara. Shinsai mirai no hana pertama kali dicetuskan di Kobe, pasca kawasan itu terkena gempa dahsyat pada 1995. Di Aceh, bunga kertas yang penuh dengan semangat dan harapan ini ditanam di beberapa lokasi penting saat tsunami Aceh. Berbagai tempat tersebut di antaranya: Masjid Raya Baiturrahman, pelabuhan Ulee Lheu, pemakaman masal Ulee Lheu, dan komplek PLTD Apung di Punge Blang Cut Banda Aceh.

Sungguh ironis memang, jika melihat tak sampai tiga bulan pasca hembusan semangat dari rakyat Jepang kepada Aceh, kini justru Jepang sendiri yang membutuhkan semangat berlipat agar mampu bangkit kembali setelah terjangan tsunami dahsyat pada 11/3/11. (st)

(oryza aditama / http://www.saudaratua.wordpress.com)