Pasangan suami istri, Agus Purwanto dan Cony Kurnaeni, adalah dua orang pengusaha yang cukup sukses memasarkan batik Cirebon kepada para turis Jepang.  Berbekal merek dagang “Tiga Puteri”, Agus dan Cony berhasil menggoda para turis Jepang tersebut untuk selalu memborong dagangan batik Cirebon mereka yang nampak khas dengan warna menyala. Bahkan salah satu gerai batik milik Agus dan Cony yang bertempat di Grand Indonesia, Jakarta, dari waktu ke waktu selalu mencatatkan tingkat penjualan yang terus meningkat.

Menurut Agus, ketertarikan para turis Jepang terhadap batik Cirebon sebenarnya telah mulai terlihat sejak 1970-an. Sebagian turis Jepang atau warga Jepang yang tinggal di Indonesia saat itu kemungkinan berminat dengan corak batik Cirebon yang memiliki khas warna menyala. “Orang tua kami yang menceritakan dan mewariskan para pelanggan turis Jepang” terang Agus. Meskipun kemudian Agus mengatakan bahwa ia sebenarnya tak mengetahui dengan detail kenapa para turis tersebut sangat menyukai dagangan batiknya, tapi yang jelas, saban hari dagangan Agus selalu diserbu para turis yang mayoritas berasal dari Jepang.

Umumnya Agus melayani pengiriman batik kepada para konsumennya di Jepang melalui pengiriman paket pos dan hanya dengan jumlah yang sedikit. Agus mengaku bahwa jumlah transaksi dengan para konsumennya melalui jasa pengiriman barang terbilang masih sedikit, terutama jika dibandingkan dengan dagangan yang terjual kepada para turis Jepang yang serasa tak pernah berhenti mendatangi gerai miliknya. “Orang Jepang suka membeli kain panjang dengan kualitas bagus untuk dibuat pakaian atas, terutama untuk busana musim panas”, ujarnya.

Sebagai sebuah pasangan enterpreneur yang terbilang sukses, mungkin tak ada yang mengira bahwa kesuksesan Agus dan Cony ini sesungguhnya berawal dari krisis moneter hebat yang menghajar perekonomian Indonesia pada 1997/1998 silam. Saat itu Agus yang sebelumnya menggeluti dunia kontraktor terpaksa harus banting setir sebagai imbas dari laju ekonomi yang tak menentu. “Awalnya istri saya coba-coba bawa batik Cirebon ke Jakarta”, ingat Agus, sebagaimana dikutip dari VivaNews.

Pada mulanya batik Cirebon yang dibawa Cony ke Jakarta, ia peroleh dari salah satu kerabat yang sudah terlebih dulu bergelut dengan dunia batik, awalnya hanya 20 sampai 50 potong saja. Seiring berjalannya waktu, batik yang dipasarkan oleh Agus dan Cony ternyata memiliki peminat yang lumayan banyak. Pada tahun kedua usaha batik milik Agus dan Cony hanya memiliki lima orang pembatik saja, namun sampai akhir 2008, mereka berdua telah mempekerjakan 20 orang pembatik, dengan omset perbulan mencapai ratusan juta rupiah.(st)

(oryza aditama / http://www.saudaratua.wordpress.com)