Limbah Tambang Mengandung Merkuri

Limbah Tambang Mengandung Merkuri

Keberadaan ratusan tambang emas skala kecil yang tersebar di sekitar kota Palu, Sulawesi Tengah, memunculkan keprihatinan tersendiri bagi sekelompok peneliti dari Universitas Toyama dan Universitas Teknologi Toyohashi di Jepang. Mereka melihat bahwa tambang emas di Palu masih banyak yang memakai cara tradisional yang tidak ramah lingkungan. Mayoritas dari para penambang di Palu kedapatan menggunakan merkuri dalam jumlah yang sangat besar demi mengais bijih-bijih emas.

Berdasar penelitian yang dilakukan sejak 2007 oleh para peneliti Jepang pimpinan Prof Kawakami, diperoleh data mencengangkan bahwa pada 2010 kadar merkuri di udara kota Palu telah jauh melampaui batas standar aman yang ditetapkan oleh WHO. Beliau berpendapat bahwa penambangan emas yang menggunakan merkuri tentunya akan menghasilkan bijih emas yang sarat dengan kandungan merkuri pula. Dan ketika proses pembakaran bijih emas tersebut, kandunngan merkuri di dalamnya akan menguap dan larut ke dalam udara bebas. Tak hanya itu, sisa larutan atau limbah merkuri yang dibuang ke sungai pastinya juga akan meracuni berbagai macam biota, air sungai, serta tanah disekitarnya.

Mendapati fakta yang membahayakan ini, Prof Kawakami bersama tim penelitinya lantas bergerak cepat dengan membeberkan segala data dan fakta penelitiannya dalam sebuah forum di Universitas Tadulako, Palu, pada September 2011. Beberapa minggu kemudian, sejumlah peneliti dari jurusan teknik lingkungan, Universitas Toyama, datang berkunjung ke Palu 21-24/10/11 untuk turut membantu usaha rekan-rekan mereka dari Universitas Tadulako dalam menangani masalah pencemaran merkuri tersebut.

Sebagaimana diketahui, para penambang emas di Jepang pada umumnya menggunakan zat yang dirasa lebih aman yaitu NaCN (Sodium Sianida) untuk aktivitas penambangan emas. Berbeda dengan para penambang di Palu yang dalam setahun rata-rata menggunakan merkuri hingga 200 ton. “Kami memperkenalkan metode penambangan dengan menggunakan NaCN, serta teknik untuk mendinginkan uap merkuri. Saya juga mengharapkan kerjasa semua pihak untuk menurunkan kadar merkuri di udara”, terang Kawakami, sebagaimana dikutip dari HaloJepang.(st)

(oryza aditama / http://www.saudaratua.wordpress.com)